Merawat Harmoni Digital: Sumrize Turut Bicara di Subang Peace Forum 2026

Search for a command to run...

No comments yet. Be the first to comment.
Sumrize menjadi salah satu finalis Astranauts 2026 dalam kategori Product Track – Cross Industry Challenge. Dalam rangkaian final tersebut, Sumrize diwakili oleh Alfyan Angga Saputra selaku CEO Sumriz

Chat kerja terlihat kecil, Tetapi biayanya besar Banyak tim modern bekerja lewat grup chat. Keputusan dibuat di sela percakapan, revisi dikirim sebagai pesan pendek, deadline disepakati cepat, dan upd

Ketika Meta AI mulai hadir di WhatsApp, pertanyaan yang wajar muncul adalah: Kalau WhatsApp sudah punya fitur AI dari Meta, apakah Sumrize masih diperlukan? Jawabannya: masih. Bahkan, dalam banyak ske

Indonesian AI startup Sumrize has received a US$50,000 investment from Niko Rinaldo, a prominent figure from Subang with strong networks across business, institutional, and public-sector circles. The

Pada Rabu, 22 Juli 2026, sekitar 100 mahasiswa dari berbagai kampus di Kabupaten Subang berkumpul di Subang Creative Center untuk mengikuti Subang Peace Forum 2026.
Seminar yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Politeknik Negeri Subang ini mengangkat tema tentang peran mahasiswa dalam mewujudkan harmoni daerah dan menangkal intoleransi di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital.
Forum ini tidak hanya membahas persoalan sosial dari satu sisi. Peserta diajak melihatnya melalui sudut pandang hukum, pendidikan, dan teknologi.
Dari unsur Kepolisian, peserta diajak memahami pentingnya kesadaran hukum serta potensi konflik sosial yang dapat muncul di lingkungan kampus dan masyarakat.
Dari sisi akademisi, Tita Nurmalinasari, M.Pd. membahas pentingnya wawasan kebangsaan dan literasi digital sebagai bekal untuk menghadapi disinformasi.
Sementara itu, dari sisi teknologi, Alfyan Saputra, Founder sekaligus CEO PT Sumrize Teknologi Cerdas, membawakan materi bertajuk:
“Optimalisasi Teknologi dan Media Sosial sebagai Sarana Membangun Harmoni Daerah di Era Digital.”
Ketiga sudut pandang tersebut membawa satu pesan yang saling melengkapi: menjaga harmoni membutuhkan kesadaran, pengetahuan, dan tindakan bersama.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda berkomunikasi, mendapatkan informasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Kecerdasan buatan dan algoritma media sosial ikut menentukan informasi yang muncul di linimasa. Teknologi juga memengaruhi cara seseorang membentuk pendapat, merespons suatu isu, dan menyampaikan pesan kepada orang lain.
Karena itu, teknologi tidak perlu dihindari. Namun, penggunaannya perlu dipahami dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam sesi yang dibawakan Sumrize, mahasiswa diajak melihat teknologi bukan hanya sebagai alat produktivitas atau hiburan. Ruang digital juga menjadi tempat untuk membangun pemahaman, menyebarkan pesan positif, dan merawat persatuan.
Salah satu hal yang dibahas adalah pentingnya membangun personal branding dan jejak digital yang positif.
Apa yang diunggah, dibagikan, atau dikomentari di internet dapat menjadi bagian dari identitas seseorang. Jejak tersebut dapat memengaruhi cara orang lain melihat diri kita, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai bagian dari masyarakat.
Namun, membangun jejak digital positif bukan hanya tentang menciptakan citra yang baik. Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menggunakan ruang digital untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Mahasiswa dapat memanfaatkan media sosial untuk:
Menyebarkan informasi yang edukatif.
Mengajak masyarakat menjaga toleransi.
Mendukung kampanye perdamaian dan persatuan.
Mempromosikan kegiatan sosial.
Mendorong partisipasi dalam pengabdian masyarakat.
Membuat konten kreatif yang memiliki dampak positif.
Konten yang baik tidak harus selalu viral. Hal yang lebih penting adalah apakah konten tersebut memberikan informasi, membuka ruang diskusi yang sehat, atau membawa pengaruh yang bermanfaat.
Kemudahan mendapatkan informasi juga membawa tantangan baru.
Tidak semua informasi yang muncul di media sosial dapat langsung dipercaya. Konten yang sering terlihat belum tentu paling benar, paling lengkap, atau paling bermanfaat.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki sikap kritis terhadap informasi yang dihasilkan maupun disebarkan melalui teknologi.
Termasuk ketika menggunakan kecerdasan buatan, pengguna tetap perlu memahami informasi yang diterima, memeriksa kembali isinya, dan tidak menelan jawaban secara mentah-mentah.
Teknologi dapat membantu manusia bekerja dan belajar dengan lebih mudah. Namun, keputusan tentang bagaimana teknologi digunakan tetap berada di tangan manusia.
Mahasiswa hari ini memiliki alat yang jauh lebih kuat dibandingkan generasi sebelumnya untuk menyampaikan gagasan dan membangun narasi positif.
Satu pesan dapat menjangkau banyak orang. Satu konten dapat membuka diskusi. Satu kampanye digital dapat mendorong perubahan di lingkungan sekitar.
Namun, kekuatan tersebut juga datang bersama tanggung jawab.
Ruang digital dapat digunakan untuk menyebarkan kebencian dan memperbesar perbedaan. Sebaliknya, ruang yang sama juga dapat digunakan untuk memperkuat toleransi, memperluas pemahaman, dan menjaga persatuan.
Perbedaannya terletak pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Kehadiran Sumrize dalam Subang Peace Forum 2026 sejalan dengan prinsip yang terus dibawa dalam pengembangan teknologi di Sumrize.
Bagi Sumrize, teknologi paling bermakna ketika digunakan untuk melayani manusia, bukan sebaliknya.
AI dan media sosial bukan hanya alat untuk bekerja lebih cepat atau mendapatkan hiburan. Keduanya juga membawa tanggung jawab dalam membentuk cara manusia berkomunikasi dan memahami satu sama lain.
Melalui forum ini, Sumrize ingin ikut mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih bijak, kritis, dan bertanggung jawab, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda.
Subang Peace Forum 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga harmoni tidak hanya dilakukan melalui pertemuan langsung atau kegiatan di lingkungan masyarakat.
Harmoni juga dapat dirawat melalui setiap informasi yang dibagikan, setiap komentar yang ditulis, dan setiap jejak yang ditinggalkan di ruang digital.
Teknologi akan terus berkembang. Namun, manfaatnya tetap ditentukan oleh cara manusia menggunakannya.
Bagi Sumrize, teknologi paling bermakna ketika digunakan untuk melayani manusia. Semoga Subang Peace Forum 2026 menjadi pengingat untuk menggunakan ruang digital dengan lebih bijak dan bertanggung jawab.